AgamaDaerah

Jangan Biarkan Teladan Ulama Pudar! Bedah Buku Warisan Gurutta Jadi Pengingat bagi Generasi Muda

Parepare, Detikwarta.com – Warisan ulama bukan sekadar nama besar dan catatan sejarah, melainkan ilmu, akhlak, perjuangan, serta nilai pengabdian yang harus terus hidup di tengah masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku Warisan Gurutta: Dari Bilik Pesantren hingga Aula Universitas yang digelar di Auditorium IAIN Parepare, Ahad (1/11/2026).

Buku terbitan IAIN Parepare itu menjadi salah satu upaya mendokumentasikan pemikiran dan keteladanan Anre Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Berawal dari lomba esai menjelang peringatan Hari Santri, buku setebal 185 halaman tersebut menghimpun tulisan dari 34 penulis dengan latar belakang dan perspektif yang beragam.

Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Mallingkai Ilyas, yang mengikuti kegiatan secara daring, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurutnya, langkah ini menjadi bagian penting dalam merawat memori kolektif dan khazanah keulamaan di Sulawesi Selatan.

Ia menegaskan, dokumentasi sejarah ulama seharusnya tidak berhenti sebagai bahan bacaan atau pengingat masa lalu. Lebih dari itu, karya semacam ini perlu menjadi gerakan literasi untuk menggali, memahami, dan meneruskan warisan intelektual serta spiritual para ulama kepada generasi berikutnya.

“Warisan Gurutta yang paling berharga bukan hanya karya tulis atau lembaga yang pernah dibangun, melainkan ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada umat. Warisan inilah yang harus terus dirawat dan diteruskan oleh generasi berikutnya,” demikian pesan Mallingkai.

Menurutnya, inisiatif IAIN Parepare mengembangkan lomba esai menjadi sebuah buku patut diapresiasi. Kegiatan tersebut membuka ruang bagi santri, mahasiswa, dan masyarakat luas untuk berkontribusi dalam merekam perjalanan sejarah serta keteladanan ulama melalui karya tulis.

Keragaman latar belakang para penulis juga dinilai menjadi kekuatan tersendiri. Sebab, sosok ulama besar dapat dipahami melalui berbagai pengalaman, hubungan, dan sudut pandang yang berbeda.

34 Penulis Hadirkan Beragam Perspektif tentang Gurutta

Dalam sesi bedah buku, Ahmad Rasyid A Said menjelaskan bahwa 34 penulis yang berkontribusi memiliki latar belakang beragam.

Sebagian merupakan santri yang pernah belajar langsung kepada Gurutta, santri dari murid-murid beliau, alumni lembaga pendidikan DDI, hingga penulis yang tidak pernah berinteraksi langsung dengan Anre Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle.

Perbedaan pengalaman tersebut melahirkan sudut pandang yang beragam dalam menggambarkan sosok dan perjuangan Gurutta. Setiap penulis menghadirkan pemaknaan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta perspektif masing-masing.

Ahmad Rasyid mengibaratkan upaya memahami sosok Anre Gurutta seperti melihat melalui sembilan jendela. Setiap jendela menghadirkan sisi berbeda, mulai dari kesan santri yang pernah berinteraksi langsung, cerita para murid, nilai perjuangan dalam konteks kekinian, hingga visi dan cita-cita besar Gurutta melalui Trilogi DDI.

Pembahasan juga mencakup strategi pengembangan dakwah dan pendidikan yang menjadi bagian dari perjuangan beliau.

Dalam pemaparannya, Ahmad Rasyid menyampaikan penilaian spiritual mengenai sosok Gurutta berdasarkan berbagai perspektif yang dibahas dalam buku tersebut. Penilaian itu menjadi bagian dari refleksi dalam forum bedah buku, bukan penetapan formal mengenai kedudukan seseorang.

Kegiatan tersebut menghadirkan Muhammad Hatta dan Ahmad Rasyid A Said sebagai pembedah buku, sementara Musmulyadi bertindak sebagai moderator.

Pesantren dan Perguruan Tinggi Punya Tanggung Jawab Bersama

Lebih lanjut, Mallingkai menekankan bahwa pelestarian warisan ulama harus dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut tidak cukup hanya melalui penerbitan buku, tetapi juga perlu diperkuat dengan penulisan biografi, dokumentasi sejarah pesantren, pengkajian pemikiran ulama, serta penerapan nilai keteladanan dalam pendidikan karakter santri dan mahasiswa.

Menurutnya, pesantren dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam.

Pesantren berperan sebagai ruang pembentukan adab dan pendalaman ilmu agama. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan kajian akademik, penelitian, serta dokumentasi warisan keulamaan agar dapat dipelajari secara lebih luas.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang mengambil bagian dalam gerakan literasi keulamaan. Mengenal ulama, menurutnya, bukan sekadar mengetahui perjalanan sejarah masa lalu, melainkan juga belajar dari nilai kesederhanaan, keluasan ilmu, integritas, perjuangan, dan pengabdian mereka kepada umat.

“Ulama boleh wafat, tetapi ilmu, keteladanan, dan perjuangannya tidak boleh berhenti. Tugas generasi setelahnya adalah merawat, mengembangkan, dan meneruskan warisan itu agar tetap relevan serta memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” tutup Mallingkai.

Melalui bedah buku Warisan Gurutta, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan para ulama. Sebab, sejarah yang terdokumentasi dengan baik akan menjadi sumber pembelajaran, sementara keteladanan yang diamalkan akan membuat nilai perjuangan mereka tetap hidup lintas generasi. (Leo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *